Asal Muasal Gelatik /* Permalink */ .permalinklanonadio {margin-top:1em;border: 2px dotted #9ecfff;padding: 5px;background:#edf6ff;-moz-border-radius:5px;color:#000000; font-family:'Segoe UI', Calibri, 'Myriad Pro', Myriad, 'Trebuchet MS', Helvetica, sans-serif;} .permalinklanonadio p {margin:1px;}

Mar 16, 2013

Asal Muasal Gelatik

Kedua jenis burung ini sama-sama berwarna “plangkok/wingko” (Bhs. Jawa) yang artinya mempunyai dua atau lebih warna yang kontras pada bagian tertentu. Biasanya warna sekitar mata berwarna putih, kepala hitam, warna pungung abu-abu (silver) dan dada putih kecoklatan. Namun warna-warni yang indah tersebut tidaklah mutlak, apalagi untuk jenis gelatik Jawa dari hasil persilangan telah membuahkan berbagai tipe warna yang cukup menarik.

Burung-burung dikenal juga sebagai burung Pipit yang termasuk ke dalam suku Estrildidae, meski ada juga yang menganggap kelompok ini adalah anak-suku Estrildinae, bagian dari suku Passeridae yang lebih luas. Sebelumnya, kelompok burung ini ditempatkan dalam suku manyar-manyaran, Ploceidae.

Jenis-jenis pipit (termasuk bondol dan gelatik) senang berkelompok, dan sering terlihat bergerak dan mencari makanan dalam gerombolan yang cukup besar. Burung-burung ini memiliki perawakan dan kebiasaan yang serupa, namun warna-warni bulunya cukup bervariasi. Ukuran terkecil dimiliki oleh Nesocharis shelleyi yang panjang tubuhnya sekitar 8,3 cm (3,3 inci), meski yang bobotnya paling ringan adalah Estrilda troglodytes (6 g). Sedangkan yang paling besar adalah gelatik jawa (Padda oryzivora), yang panjang tubuhnya 17 cm (6,7 inci) dan beratnya 25 g.

Kebanyakan burung pipit tidak tahan dengan iklim dingin dan memerlukan habitat hangat seperti di wilayah tropika. Namun ada pula sebagian kecil jenis yang beradaptasi dengan lingkungan dingin di Australia selatan. Pipit bertelur 4-10 butir, putih, yang disimpan dalam sarangnya yang berupa bola-bola rumput.

GELATIK JAWA
Gelatik Jawa atau Padda oryzivora adalah sejenis burung pengicau berukuran kecil, dengan panjang lebih kurang 15cm, dari suku Estrildidae. Burung gelatik Jawa memiliki kepala hitam, pipi putih dan paruh merah yang berukuran besar. Burung dewasa mempunyai bulu berwarna abu-abu, perut berwarna coklat kemerahan, kaki merah muda dan lingkaran merah di sekitar matanya. Burung jantan dan betina serupa. Burung muda berwarna coklat.

Burung ini endemik dari Indonesia dan di alam ditemukan di hutan padang rumput, sawah dan lahan budidaya di Pulau Jawa dan Pulau Bali. Sekarang, spesies ini dikenali di banyak negara di seluruh dunia sebagai burung hias.

Perilakunya senang berkelompok dan cepat berpindah-pindah. Pakan utama burung ini adalah bulir padi atau beras, juga biji-bijian lain, buah, dan serangga. Burung betina menetaskan antara empat sampai enam telur berwarna putih, yang dierami oleh kedua tetuanya.

Spesies ini merupakan salah satu burung yang paling diminati oleh para pemelihara burung. Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta terbatasnya ruang hidup burung ini menyebabkan populasi gelatik Jawa menyusut pesat dan terancam punah di habitat aslinya dalam waktu singkat. Sekarang telah sulit untuk menemukan gelatik di persawahan atau ladang.

Gelatik Jawa untuk sekarang ini sudah ada yang berhasil menangkarkan atau yang dikenal dengan Gelatik Silver. Gelatik silver termasuk salah satu gelatik yang muncul karena adanya mutasi warna yang terjadi dalam penangkaran gelatik jawa di luar negeri. Sama halnya dengan jenis gelatik lainnya, daya tarik gelatik silver juga terletak pada warna bulunya yang indah. Untuk mengenalnya lebih jauh sebaiknya mengetahui lebih dahulu ciri-ciri burung gelatik silver ini.

Bagian atas paruh hingga kepala bagian belakang berwarna abu-abu kehitaman.Warna abu-abu pada bagian ini terlihat paling gelap (abu-abu tua). Bulu di bagian samping kepala atau bagian pipi berwarna putih. Bagian dagu, dada, punggung, hingga ekor bagian atas berwarna abu-abu muda. Perut hingga bagian kloaka serta ekor bagian bawah berwarna putih. Sayap berwarna abu-abu muda, berangsur-angsur ke arah ujung memudar keputih-putihan. Mata berwarna hitam bening dengan lingkaran mata berwarna merah terang. Paruh berwarna merah cerah dengan bagian tepi berwarna putih kekuningan. Kaki berwarna merah muda dengan ruas-ruas yang berwarna putih. Warna merah pada bagian kaki lebih pucat dibandingkan dengan warna pada paruh. Kuku berwarna putih kekuningan senada dengan warna bagian tepi paruh.

Panjang tubuh gelatik silver dari kepala hingga ekor kurang lebih 12–15 cm. Ukuran panjang ini tergantung pada lingkungan dan baik atau tidaknya pakan yang diberikan kepada gelatik tersebut. Jika lingkungannya mendukung serta gelatik mendapatkan pakan yang baik, maka burung ini akan tumbuh dengan sempurna dan memiliki ukuran panjang tubuh yang optimal.

MEMBEDAKAN JANTAN ATAU BETINA SECARA FISIK
Untuk membedakan jenis kelamin pada gelatik silver sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Berikut ini beberapa hal yang dapat dijadikan acuan untuk membedakan antara jantan dan betina pada gelatik silver.

1. Bentuk paruh

Bentuk paruh antara gelatik silver jantan dan betina secara sekilas hampir sama. Untuk membedakannya harus diamati secara teliti. Bagi penangkar, tentunya sudah terbiasa dan cepat dalam membedakannya. Lain halnya bagi yang masih awam harus mencermatinya benar-benar.

Paruh gelatik siver jantan, lebih tebal membentuk lekukan pada bagian atas kepala. Paruh gelatik silver betina, hampir rata dengan bagian atas kepala.
Bentuk paruh gelatik silver jantan lebih melebar jika dilihat dari depan. Sementara jika dilihat dari samping akan tampak lebih menebal. Bagian yang menebal ini terlihat jelas pada paruh bagian atas. Pada bagian atas lubang hidungnya kelihatan lebih menebal sehingga membuat lekukan pada kepalanya. Sementara pada yang betina bagian ini tidak terlalu tebal sehingga bagian atas kepala sampai ke ujung paruh terlihat lebih rata.

Warna paruh umumnya sama antara yang jantan dengan betina. Namun jika dibandingkan, warna merah pada paruh gelatik silver betina cenderung lebih terang. Sementara pada paruh gelatik silver jantan lebih tajam (gelap).

2. Bentuk tubuh

Bentuk tubuh gelatik silver jantan dan betina hampir sama. Namun jika diamati, tubuh jantan akan kelihatan lebih panjang terutama pada bagian leher dan kaki. Namun, hal ini lebih dikarenakan kebiasaan gelatik silver jantan yang suka bertengger dengan tubuh yang tegak. Sedangkan yang betina umumnya saat bertengger kurang tegak dan lebih suka diam. Selain itu, kaki dan jemari yang jantan umumnya lebih panjang serta ramping dibanding betinanya.

3. Suara yang diperdengarkan
Baik gelatik silver jantan maupun betina dapat bersuara. Namun, suara pada yang betina hanya sedikit sehingga sering dikatakan tidak bersuara. Lain halnya pada yang jantan, suaranya lantang dan dapat membentuk kicauan. Kicauan ini cukup enak untuk dinikmati, meski saat ini hal tersebut kurang diperhatikan. Kicauan akan semakin keras saat masa berahi. Pada saat ini gelatik silver jantan menunjukkan kemampuannya untuk menarik pasangannya. Selain dengan suara, gelatik silver jantan juga memiliki sejenis tarian untuk memikat, sedangkan yang betina relatif lebih diam (pasif).

GELATIK BATU

Gelatik Batu Parus major( Paridae) dari sisi suara relative lebih bagus dan bervariasi dari pada kicauan Gelatik Jawa (Silver), hanya saja dari sisi penampilan Gelatik Batu warnanya relative kurang cemerlang dibanding Gelatik Jawa. Paruh yang berbeda dari sisi warna maupun bentuk, untuk Gelatik Batu paruh runcing dan bisa diguakan untuk makan serangga, sedangkan untuk paruh Gelatik Jawa (Silver) berbentuk tumpul mirip dengan paruh emprit yang biasa digunakan untuk makan biji-bijian.
Deskripsi

Tubuh berukuran kecil (13 cm).Tubuh warna hitam, abu-abu, putih. Kepala dan kerongkongan hitam. Bercak putih mencolok di sisi muka. Setrip putih pada sayap. Paruh kecil. Iris hitam, paruh kehitaman, kaki abu-abu gelap. Bersifat lincah, aktif bergerak, naik turun di puncak pohon atau permukaan tanah. Berburu dalam kelompok keluarga atau pasangan. Menyukai pohon berdaun jarum dan cemara.

Makanan: berbagai serangga. Sarang berupa lubang pohon, bekas sarang Takur bultok, dilapisi lumut.
Telur berwarna putih berbintik merah, jumlah 3-4 butir.
Berbiak bulan April-Juni.

Tempat hidup dan kebiasaan
Mengunjungi hutan mangrove, hutan pantai, hutan terbuka, pekarangan, lahan budidaya, dan kadang perdu sampai ketinggian 2400 mdpl. Burung kecil yang lincah, bergerak aktif naik turun di puncak pohon atau di permukaan tanah. Memakan beragam makanan tetapi kebanyakan serangga yang ditangkap di pohon. Berburu dalam kelompok keluarga atau berpasangan.


Tiga jenis gelatik batu di Indonesia

Sampai saat ini masih terjadi beberapa kerancuan mengenai gelatik batu. Masih banyak yang menganggap gelatik batu berbeda dari gelatik wingko. Selain itu, para ornitholog di dunia pun terkadang meletakkan gelatik batu yang ada di Indonesia sebagai subspesies dari gelatik batu  sejati (Parus major), dengan nama ilmiah Parus major cinereus. Tetapi ada juga yang menganggapnya spesies tersendiri, Parus cinereus, dengan beberapa subspesies di dalamnya.

Gelatik batu asli Indonesia
Gelatik batu asli Indonesia
Om Kicau pun sempat terjebak dalam kerancuan seperti ini. Nah, artikel ini sengaja diluncurkan agar ke depan bisa terbangun kesamaan persepsi di antara kicaumania Indonesia. Apalagi dari hari ke hari burung ini makin digemari, bukan sekadar karena harganya yang relatif terjangkau, tetapi juga karena mempunyai suara yang bagus dan bisa dijadikan burung master.
Tentang kerancuan pertama, masih banyak yang menganggap gelatik batu dan gelatik wingko adalah spesies yang berbeda. Ini bisa disimak dari berbagai informasi di dunia maya. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa gelatik wingko sebenarnya nama lain dari gelatik batu. Mana yang benar?
Saya memang tidak bisa menjamin kebenaran mutlak. Namun, dengan mengacu pendapat para ahli yang punya kompetensi mengenai hal ini, semoga bisa mendekati kebenaran. Menurut Om Ige, dari Yayasan Kutilang Indonesia, gelatik wingko adalah julukan yang diberikan masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi untuk burung gelatik batu yang hidup di kawasan tersebut.
Dengan demikian, gelatik wingko merupakan salah satu dari puluhan jenis gelatik batu yang ada di seluruh dunia. Ketika saya menyebut gelatik batu, pengertiannya adalah semua spesies yang termasuk dalam genus Parus. Secara keseluruhan ada 24 spesies dalam genus Parus di seluruh dunia.
Di antara spesies gelatik batu tersebut, yang paling popular adalah gelatik batu sejati (Parus major), yang terdiri atas 14 subspesies. Spesies ini banyak dijumpai di Eropa, Asia Baratdaya, Timur Tengah, dan Afrika.

Gelatik batu sejati (Parus major) hanya dijumpai di Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan Asia Baratdaya.
Gelatik batu sejati (Parus major)

Indonesia memiliki tiga jenis gelatik batu, salah satunya adalah gelatik wingko. Dulu ketiganya dimasukkan sebagai salah satu subspesies dari Parus major, dengan nama ilmiah Parus major cinereus. Tetapi mengingat beberapa perbedaan morfologi dan wilayah persebarannya, ketiga jenis gelatik batu asal Indonesia ini dikelompokkan dalam spesies tersendiri dengan nama Parus cinereus, tetapi hanya menjadi subspesies.
Parus cinereus terdiri atas 13 subspesies tersebut. Seperti dijelaskan sebelumnya, tiga jenis di antaranya terdapat di Indonesia, yaitu:

  • Parus cinereus cinereus : habitat di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
  • Parus cinereus ambiguus : habitat di Sumatera (dan Semenanjung Malaysia).
  • Parus cinereus sarawacencis : habitat di Pulau Kalimantan, terutama di wilayah baratlaut.

Gelatik wingko (Parus cinereus cinereus)
Gelatik wingko (Parus cinereus cinereus)

Gelatik batu asal Sumatera (Parus cinereus ambiguus)
Gelatik batu asal Sumatera (Parus cinereus ambiguus)

Dari sini bisa disimpulkan beberapa hal seperti berikut ini:

  • Gelatik batu yang ada di lereng Merapi sebenarnya sama seperti gelatik batu di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Artinya, bisa juga disebut sebagai gelatik wingko.
  • Gelatik batu di Sumatera dan Kalimantan masih satu spesies dengan gelatik batu di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, tetapi memiliki beberapa perbedaan kecil sehingga ditetapkan sebagai subspesies tersendiri. Subspesies ini juga bisa disebut sebagai gelatik batu, tetapi (mestinya) bukan termasuk gelatik wingko jika pengertian gelatik wingko adalah Parus cinereus cinereus.
Perlu diketahui, hampir semua jenis gelatik batu yang termasuk dalam spesies Parus cinereus hanya dijumpai di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Baratdaya (Afghanistan, Turkmenistan, Tajikistan), serta tidak dijumpai di Eropa maupun Afrika.
Berikut ini pemetaan wilayah persebaran puluhan jenis gelatik batu di seluruh dunia :

Peta sebaran gelatik batu di seluruh dunia
Peta sebaran gelatik batu di seluruh dunia

NB: Sampai saat ini, beberapa website burung seperti orientalbirdimage.com dan ibc.lynxeds.com masih menempatkan gelatik wingko atau gelatik batu asal Indonesia sebagai subspesies dari Parus major.
Dengan demikian, sekarang kita (mestinya) sudah bersepakat bahwa gelatik wingko sebenarnya sama dengan gelatik batu, terutama gelatik batu yang ada di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Tetapi gelatik wingko maupun dua jenis gelatik batu khas Indonesia berbeda dari gelatik batu sejati (great tit) yang banyak dijumpai di Eropa.
Gelatik batu di Indonesia, menurut para ornitholog, tidak termasuk dalam kelompok great tit, tetapi cinereous tit (istilah dalam bahasa Inggris menggunakan kata cinereous; untuk nama latin / spesies tetap cinereus).
Seperti dijelaskan di bagian awal tulisan, gelatik batu kini makin disukai kicaumania karena harganya relatif terjangkau, mudah dikembangbiakkan / ditangkarkan, dan termasuk burung kicauan, bahkan dapat dijadikan salah satu burung master.
Hal ini berbeda dari gelatik jawa (Padda oryzivora) atau gelatik belong / pelong / tembok yang lebih berfungsi sebagai burung hias, tetapi kicauannya monoton. Di Inggris dan Belgia, burung gelatik jawa sudah dikembangbiakkan secara modern, bahkan sudah muncul berbagai varian baru hasil mutasi warna, termasuk gelatik silver.
Nah, sebagian kicaumania pun terkadang menyamakan gelatik jawa dengan gelatik batu, padahal perbedaannya cukup jauh (lihat gambar di bawah ini):

Gelatik jawa (kiri) jauh berbeda dari gelatik batu. Tembong putih di pipi lebih jelas dan cantik daripada gelatik batu, tetapi suaranya monoton.
Gelatik jawa (kiri) jauh berbeda dari gelatik batu (kanan).
Tembong putih di pipi lebih jelas dan cantik daripada gelatik batu, 
tetapi suaranya monoton.